Err-- *liriklirik postingan sebelumnya* Bener banget. Ternyata belom gw tulis! Jadi gini. Akhirnya, gue jadi anak SMA! SMA Plus Negeri 17, Palembang. SMA yang pendaftarnya bejibun, sampe angkanya nyampe ke bilangan 993 orang. Dan yang diterima "hanya" 230 orang. Include me. Ya Allah, Thank's atas segala limpahan rahmat-Mu. The full agreat blessing. Pheww! Susah, bo' tes ujian masuk kesana. Bener-bener susah. Bikin mata kliyer dan pusing. Hampir enam puluh lima persen soal-soal yang dikasih, itu susah, dan gak pernah diajarin sebelumnya baik di SMP maupun di kursus. Nggak hanya soal tes-nya aja yang susah. Soal wawancara-nya juga. Dan alhamdulillah, gue bisa melalui itu semua dengan susah payah, dan tekad yang kuat. Perjuangan gak nyampe disitu aja. Sesudah diterima, calon-calon siswa bakal "digirng" ke acara LatDis dan MOS selama sepuluh hari! LatDis itu kepanjangan dari Latihan Kedisiplinan. Yang dimana, kita diharuskan bergerak cepat, setiap pergerakan harus lari, tapi utamakan keselamatan, Latihan Baris Berbaris yang diajarin oleh empat TNI yang galak tapi akhirnya baeeeekkk stengah idup, terus di otak kami, ditanamkan kata-kata "setiap perbuatan selalu ada tindakan". Gilaaaaaa!!
1. LTBB:
Lathian Teknik Baris Berbaris. Kalo ini sih, bisa dibilang gue udah lumayan paham. Secara gue waktu SMP pernah ikut lomba gerak jalan menempuh delapan kilometer, tapi akhirnya enggak menang. T.T Tapi, acara terakhirnya yang seru! Hari terakhir yang gak bakal dilupakan! Siang itu, panas bolong, jam dua belas teng, ketika matahari berada di puncak banget, kami tidur menghadap matahari di lapangan sepak bola yang besar. Sambil kami tidur, kami semua disiram air dingin oleh kakak-kakak kelas. So pasti, para cewek-cewek laen (yang notabene gue termasuk) pada jejeritan. Tanya kenapa? Siang-siang bolong, kena cahaya matahari yang panas, disiram air dingin? Bisa tumbuh putih-putih di wajah. Tapi keknya wajah gue udah disetel supaya tahan yang kayak gitu-gituan. Udah itu, kami disuruh ngikutin puisi tentang matahari. Habis puisi itu, kami disuruh buka mata dan pelototi matahari. Gila! Itu pengalaman bakal dikenang terus. Habis itu, kami langsung disuruh tegak berdiri dalam posisi siap sempurna. Mana bisa abis melototin matahari, disuruh dengan tiba-tiba sikap tegak sempurna?
Udah itu kami disedian teh botol. Eits, tentu aja nggak segampang itu minum teh botol yang dingin. Kami harus merangkak, guling-guling, lalu merangkak lagi sepanjang dari gawang satu ke gawang lainnya. Terus, itu belom berakhir! Kami masih harus merangkak dan guling-guling lalu merangkak lagi di lapangan yang becek dan banyak lumpur "Lapindo"-nya. Dan sesudah itu, kami dipotret oleh Pak Ken. Dan see? Baju kami yang putih bersih, langsung penuh dengan noda hitam lumpur, nggak hanya baju aja, tapi juga training, topi, wajah, tangan, sepatu, kaos kaki, dan rambut. Lalu baru deh, dikasih teh botol yang dingin. Itu bakal jadi pengalaman yang tak terlupakan nomor satu!
2. Home Stay:
Salah satu kegiatan yang diselipkan. Home Stay ini, kami para calon siswa SMA Plus Negeri 17, Palembang harus menetap selama tiga hari dua malam di suatu pedesaan, yang mayoritas penduduknya memiliki ekonomi yang rendah. Disana, kami layaknya seperti bagian masyarakat. Disana, kami bisa buat kerupuk, jangek (semacam kerupuk.red), kemplang, dan nggembala sapi. Sumpah, acara itu seru banget! Tapi sayang, disana gue sakit-sakitan. Jadi gak bisa menikmati pemandangan indah disana. Padahal disana ada danau, sungai, dan katanya kita bisa mandiin sapi di sungai. Keren banget gak tuh? Tapi satu lagi yang sangat disayangkan. Di lapangan desa sana, banyak "ranjau" (baca: kotoran sapi). Yeah, but it's the part of the feel village, rite? Apapun itu, gue tetep bersyukur udah bisa ngerasain rasanya jadi "wong ndeso".
3. Conclusion:
See? Hasil akhirnya, kulit gue ngitem!!! Asli! Item, dekil, and the kumel! Gitu kayak yang diomongin sama orang-orang. Mana bibir gue pecah-pecah, mata merah akibat debu. Asli, kayak orang negro! Leher gue mutung! Pipi gue item! Bibir gue juga yang tadinya merah jadi ngitem! Telinga gue merah! Pokoknya, K-A-Y-A-K O-R-A-N-G N-E-G-R-O~~ Oh, betapa malunya diriku jika ingin keluar rumah! Kemaren pas acara arisan keluarga aja, gue dipaksa sama mama gue untuk tetep ikut padahal gue enggak mau karena malu dengan kulit gue. Pokoknya gue menderita asli!
Tapi inilah kenang-kenangan atau bisa dibilang "bingkisan" dari SMA Plus Negeri 17, Palembang. SEEEEEEERRRRRRRRRUUUUUUUUUU~~~~~~~~~~!!!!!!!!!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar